Kisah Sukses

Mengejar IFA di Toraja

Lusyen – Toraja (ISA)
Kisah perjuangan Lusyen untuk bisa bergabung dengan IFA terasa tak biasa. Berbagai cara yang ia tempuh selalu berujung pada jalan buntu. Baru setelah dua tahun lamanya, usahanya itu menemukan jawaban. Ia ber- hasil menjadi member IFA di penghujung 2009. Sebuah penantian panjang yang akhirnya berbuah kesuksesan. Omzetnya kini sudah mencapai 200 juta rupiah.

Cerita ini dimulai 3 tahunan silam, tepatnya 2007. Lusyen me- ngenal IFA pertama kali dari seorang temannya yang berada di belakang rumahnya. Ketika bertamu ke rumah temannya itu, Lusyen melihat katalog IFA tergeletak di sana. Lalu, dibukalah katalog itu lembar demi lembar. Seketika itu juga dirinya tertarik, terutama terhadap produk baju dan tas IFA.
Lusyen yang penasaran itu kemudian mengejar dengan berbagai pertanyaan. Si temannya menjelaskan bahwa produk-produk IFA ini ada diskonnya dari 20 hingga 30 persen. Ketertarikan Lusyen kian tak tertahan. Tanpa basa-basi lagi, Lusyen langsung menyatakan minatnya untuk bergabung dengan IFA. Tapi si temannya bilang, ”tunggu ya.”

Satu minggu kemudian, pemilik nama Lusyen Lempang ini kembali datang ke rumah temannya itu dan menanyakan apakah dirinya sudah bisa mulai bergabung dengan IFA. Namun temannya bilang bahwa dirinya harus menanyakan dulu ke temannya yang memberikan katalog tersebut. Untuk kedua kalinya kesabaran Lusyen diuji.
Setahun berlalu sudah. Tapi Lusyen belum juga bisa mendaftar jadi member IFA. “Saya mikir terus bagaimana ya caranya saya bergabung,” tuturnya menceritakan gejolak pikirannya kala itu.

Tak disengaja, dirinya melihat teman satu kantornya memakai se- patu IFA. Ia pun langsung menanyakan, ”Dari mana kamu dapat sepatu ini? Siapa temanmu yang kasih?” Teman satu kantornya itu bilang bahwa dirinya sudah tidak tahu lagi dimana keberadaan temannya yang membawakan sepatu tersebut.
Mendengar jawaban demikian, perempuan kelahiran Bua 26 Agustus 1964 ini hanya bisa mengernyitkan dahi.

Kemudian, Lusyen mendatangi kembali temannya yang berada di belakang rumahnya itu. Tapi lagi-lagi ia memberikan jawaban yang sama: tunggu dulu ya. Keesokan harinya, Lusyen mencoba menanyakan lagi, tapi hasilnya tetap nihil.
Tak terasa, dua tahun berlalu tanpa ada kepastian. ”Terus saya berpikir, biasanya di buku bisnis ada nomornya.” Lalu ia segera menemui temannya itu dan menanyakan apakah ada nomor yang bisa dihubungi. Setelah dilacak, ternyata ada. Lusyen langsung memencet handphonenya.

Ternyata pemilik nomor tersebut tak lain adalah Diana (Depot Raymond) dari Palopo. Dari sinilah, kisah pengejaran Lusyen tersu- dahi.
“Setelah saya kirim uang pendaftaran 50rb, besoknya katalog IFA tiba di Toraja.” Esok harinya, Lusyen membawa katalog tersebut ke kantornya dan berpromosi di sana. Tak tanggung-tanggung, sepuluh temannya langsung memesan produk IFA: ada yang 1 juta, 900 ribu, dan paling rendah 600 ribu. Jika ditotal sejumlah 5 juta lebih. Sebuah awalan yang meyakinkan.

Laju Kesuksesan IFA Toraja
Setelah susah payah mengejar selama 2 tahun, istri Markus Paelongan ini berjanji tak akan pernah melepas IFA. Dirinya juga berkomitmen untuk fokus di IFA dan tak akan mendua. ”Saya tidak akan lepaskan IFA. Karena seolah-olah saya sudah dapatkan orang yang saya cari selama ini, selama 2 tahun.
Yang jelas saya tidak akan masuk lagi di MLM lain. Karena selama ini sudah puluhan MLM saya masuki tapi tidak ada hasilnya yang maksimal.”
Setelah resmi bergabung dengan IFA di bulan Desember 2009, lima bulan kemudian dia mengiuti IBTN sekaligus training depot.
“Nah waktu itu saya dikasih target 50jt.” Bagi Lusyen, target segitu tak sulit. Dan benar adanya, di bulan Mei 2010 itu juga, dirinya berhasil membuka depot.

Usai membuka depot, pergerakan bisnisnya begitu cepat bak anak panah melesat. Bayangkan saja, hanya dalam waktu 7 bulan, tepatnya Desember 2010 lalu, omzet depotnya sudah mencapai 200 juta rupiah. Berbagai bonus/komisi pun sudah ia nikmati: KCSM pada September 2010, KPI pada Oktober 2010, dan berbagai bonus dalam bentuk barang serta keuntungan lain seperti fee depot sejumlah puluhan juta rupiah tiap bulannya. Kini, ia sedang mengincar Komisi Cicilan Mobil (KCM).
Sementara member yang ada di seluruh jaringannya berjumlah sekitar 1.500an orang. Hampir semuanya berada di Toraja. “Jadi kami memang fokus di daerah kami. Untuk apa kita ambil jauh-jauh dulu kalau lahan kita masih kosong. Itu pun di Toraja masih banyak yang belum tergarap, utamanya di pelosok-pelosok,” tandas ibu Debby Andriani ini.

 
 
Terdapat 0 komentar pada berita ini.

Komentar

Untuk memberikan komentar pada berita ini, silahkan login terlebih dahulu.