Kisah Sukses

Dulu Asongan, Kini Jutawan

Menelusuri jejak kehidupan masa lalu Salamuddin sungguh merenyuhkan dada. Bagaimana dia harus jungkir-balik bersiasat dengan keadaan akibat himpitan ekonomi yang tak berkesudahan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kadang bisa kadang tidak, belum lagi ia harus menanggung biaya sekolah adik-adiknya. Namun setelah berjumpa IFA, selubung gelap itu berlahan-lahan mulai tersingkap. Kini ia tampil menjadi sosok jutawan baru yang terlahir dari rahim IFA.

Dari Pedagang Asongan Hingga Tenaga Honorer
Sedari kecil Salamuddin bekerja serabutan. Tahun 1990, dia dan keluarganya pindah ke Padangsidimpuan dari kampung Hutapuli, Kec. Kotanopan—sebuah desa terpencil di Kabupaten Mandailing Natal. Saat itu dirinya masih duduk di kelas 4 SD. Tapi naas memang, karena kehidupan keluarganya sangat kekurangan, akhirnya ayahnya memutuskan untuk kembali ke kampung asalnya. Tapi Salamuddin bersama adik dan ketiga kakaknya tetap tinggal di Padangsidimpuan.

Sebagai anak laki-laki terbesar dari delapan bersaudara,Salamuddin merasa memikul tanggungjawab untuk bisa membantu meringankan beban orangtua. Karenanya, sewaktu masih duduk di bangku kelas 2 SMP, dirinya rela menjadi pedagang asongan di stasiun bus di Padangmatinggi saat pulang sekolah. Setamat SMP, ia menjadi pelayan di sebuah rumah makan.

Kemudian, selama SLTA, untuk membiayai sekolah, Salamuddin bersedia menjadi cleaning service di Kantor Bupati Tapanuli Selatan. Setelah lulus, ia diajak temannya bergabung dengan salah satu MLM. ”Tapi saya tidak dapat hasil apa-apa. Dan Upline saya di MLM ini yang membawa saya ke Kota Medan untuk pertama kalinya. Di sana saya juga tidak mendapatkan pekerjaan dengan mengandalkan ijazah SLTA. Akhirnya saya kerja di sebuah pabrik Roti Bolu di jalan Wahidin Medan. Tapi karena di sini juga hasilnya tidak cukup, akhirnya saya berhenti. Kemudian saya ikut saudara berjualan gorden dari komplek ke komplek dengan cara memikulnya sambil berjalan kaki,” ceritanya mengenang.

Waktu terus berjalan, tapi pria kelahiran 4 April 1975 ini tak juga mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di kota itu. Akhirnya ia memutuskan kembali ke Padangsidimpuan. Disana ia ditawari bekerja sebagi kuli bangunan. Setelah jadi kuli bangunan, Salamuddin dapat tawaran bekerja sebagai honorer di sekolah Perawat Kesehatan (SPK) dengan gaji Rp. 60.000/bln. ”Dengan gaji inilah saya hidup dan membiayai sekolah adik saya yang duduk di SLTA,” tuturnya haru.

Dari sinilah kisah percintaan Salamunddin dengan Yuslianti dimulai. Yuslianti adalah alumni Akademi Kebidanan. Setamat dari Akbid, Yuslianti diterima sebagai tenaga dosen di salah satu Perguruan Swasta dengan gaji yang tak seberapa. Hingga akhirnya keduanya mengikrarkan janji suci perkawinan pada 13 Desember 2003, Yuslianti masih bekerja di Yayasan tersebut.

Selang beberapa waktu kemudian, Yuslianti menjadi Bidan PTT yang di tempatkan di sebuah desa terpencil. “Dengan mengandalkan gaji saya sebagai pegawai honorer dan istri sebagai Bidan PTT, rasanya tidak cukup untuk membiayai susu anak dan biaya pendidikan dua orang adik yang waktu itu masih sekolah tingkat SLTP dan SLTA,” ungkapnya.

Karena tak mencukupi, keduanya kemudian mulai mencaricari usaha sampingan. Awalnya mereka ingin membuka usaha sendiri, tapi rencana itu harus kandas karena terbentur urusan dana. Akhirnya mereka memilih jalur MLM yang memang tak perlu modal besar.

Bermula dari Toko Obat
Kisah ini terjadi di tahun 2005 lalu. Saat itu, Salamuddin dan Yuslianti tengah belanja obat di sebuah toko obat yang terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan, Padangmatinggi, Kota Padangsidimpuan, untuk praktik bidan di rumah. Di situ, mereka melihat Katalog IFA tergeletak di meja. Alih-alih menunggu obat yang tengah diproses, mereka membuka-buka katalog tersebut. “Kami lihat produknya bagus-bagus, beda dengan yang ada di pasaran,” begitulah kesan pertama mereka terhadap produk IFA.

Keduanya langsung kepincut dan ingin membeli untuk konsumsi sendiri. Lalu, Salamuddin bertanya pada sang pemilik toko obat, bagaimana cara mendapatkan produk-produk tersebut? Sang pemilik tokoh menyuruh mereka berdua datang ke Rumah dan Depot Salamuddin -Yuslianti. rumahnya untuk bertemu dengan istrinya.

Singkat cerita, mereka akhirnya mendaar menjadi member IFA melalui istri si pemilik toko obat tadi. Sesampai di rumah, keduanya kembali membuka-buka Katalog IFA. Dari situ, timbul ide untuk menjual ke teman-temannya.

Namun kala itu Salamuddin dan Yuslianti belum tahu bagaimana sistem IFA, yang mereka tahu hanyalah menjual dan menjual. “Kami tidak tahu rekrut dan sebagainya,” akunya. Hal itu berlangsung hingga sekitar awal 2007. Lalu, mereka mulai membaca buku penuntun IFA. “Baru kami tahu, sebenarnya ada begitu banyak keuntungan yang disediakan KP IFA.”

Mengintip Taman Kesuksesan Mereka
Usai membuka depot yang diberi nama DEPOT SAFHA pada Mei 2008—yang dulunya beralamat di Jl. Imam Bonjol 163 Padangsidimpuan dan sekarang berlokasi di Jl. Imam Bonjol No. 131 Padangsidimpuan—taman kesuksesan mereka kian menghijau.

Tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan bulan saja, mereka sudah berhasil menyabet berbagai komisi yang disediakan IFA: Komisi Cicilan Sepeda Motor (KCSM) sudah didapat 4 kali, Komisi Perjalanan Ibadah (KPI) atas nama Yuslianti pada 19 Juli 2008, Komisi Perjalan Wisata Asia (KPW-1) atas nama Yuslianti pada April 2010, serta bonus materi tiap bulannya. Dari bonus-bonus tersebut mereka bisa membeli rumah megah yang kini dibuat sebagai depot.

”Ini sangat luar biasa, dan rasanya bagaikan mimpi. Ini membuktikan bahwa IFA bukan sekedar membuat rang berani bermimpi tapi IFA membuat mimpi menjadi nyata.”

Memang sudah sepantasnya Salamuddin dan Yulisanti menikmati hasil dari kerja keras mereka selama ini. Kini karir Yuslianti di peringkat IFA Gold Agent (IGA), sementara Salamuddin berada di level IFA Silver Agent (ISA). Jaringan mereka pun beranakpinak hingga 2500-an orang yang tersebar di kota Padangsidimpuan, Panyabungan, Gunung Tua, Sibuhuan, Ujung Tanjung Riau, Batang Toru, Sipirok, Natal, Pasir Pangarayan, Kab. Bener Meriah Aceh dan ada beberapa member di kota Medan.

Yang lebih menakjubkan lagi adalah capaian omzetnya. Bulan November 2010 lalu, omzet mereka mencapai 275juta. Padahal jika menengok 2008 lalu, saat awal buka depot, baru berkisar 70juta. Sebuah laju pertumbuhan yang begitu mengesankan.

Apa yang menjadi resep keberhasilan Salamuddin yang dulunya hanya seorang pedagang asongan kini menjadi jutawan? Sederhana saja, ”Buat impian untuk jadi target ke depan, karena tanpa impian bagai berjalan tanpa arah. Lalu berbuatlah seratus persen agar hasil yang didapat juga seratus persen,” ungkapnya berbagi rahasia kesuksesan. [] Muhammad Kodim

 
 
Terdapat 0 komentar pada berita ini.

Komentar

Untuk memberikan komentar pada berita ini, silahkan login terlebih dahulu.